Showing posts with label SOSIAL. Show all posts
Showing posts with label SOSIAL. Show all posts

June 27, 2010

NIKMATILAH PERBEDAAN

Perbedaan adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa.Lihatlah sekeliling kita, indahnya warna-warni bunga, warna-warni satwa, dan segala keragaman lain yang menghiasi dunia. Bayangkan kalau kita hanya mengenal warna hitam saja! Alangkah gelapnya nya dunia ini!


Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni, kita tidak akan merasakan hidup semeriah dan seindah sekarang ini, betul?! :-)

Begitu pun dengan kehidupan, setiap insan selalu berhadapan dengan segala macam perbedaan dan warna-warni kehidupan. Tapi sayang, tidak semua orang mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan. Banyak orang merasa tersiksa karena perbedaan alias mereka tidak mampu menikmatinya.

Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya karena perbedaan. Entah itu perbedaan warna kulit, agama, suku bangsa, prinsip, atau sekadar pendapat. Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Setiap orang lahir dengan perbedaan dan keunikannya masing-masing. Mulai dari perbedaan fisik, pola pikir, kesenangan, dan lain-lain.

Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama. Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak selalu menguntungkan. Coba bayangkan, seandainya semua orang memiliki kemampuan memimpin, lantas siapa yang mau dipimpin? Kalau semua orang menjadi orang tua, siapa yang mau jadi anak? Siapa juga yang akan menerima sedekah, jika semua orang ditakdirkan kaya?

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan alat perpecahan. Banyak hal positif yang bisa kita peroleh dengan perbedaan. Namun, tentu saja semua itu harus bersyarat. Nah, syarat apa
saja yang harus dipenuhi?

Berikut di antaranya...
1. Cara pandang kita terhadap perbedaan.
Berpikirlah positif dengan mensyukuri adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan sebagai kekayaan. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap yang tepat. Ada baiknya kita mencari persamaan terlebih dahulu, sebelum mencari perbedaan.

2. Kelola perbedaan sebaik mungkin.
Musyawarah untuk mencapai kesepakatan adalah jalan yang tepat untuk mengelola perbedaan. Berlatihlah untuk menghargai, menerima, menjalankan dan bertanggungjawab terhadap keputusan bersama, meski berlawanan dengan ide awal kita.

3. Selalu posisikan segala sesuatu pada tempatnya.
Saat bekerja sama dengan orang lain, salurkan potensi, karakter, minat yang berbeda-beda pada posisi 'yang tepat'. Cara ini akan mendorong tercapainya tujuan bersama dan mendukung pengembangan potensi masing-masing individu.

4. Jangan pernah meremehkan orang lain.
Apapun dan bagaimana pun kondisi atau pendapat orang lain, perlakukan mereka selayaknya diri kita ingin diperlakukan. Anggaplah semua orang penting. Mereka memiliki peran tersendiri, yg bisa jadi tidak bisa digantikan oleh orang lain.

5. Jangan menonjolkan diri atau sombong.

Merasa diri paling penting dan lebih baik daripada orang lain *tidak akan* menambah nilai lebih bagi kita. Toh kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Jadilah beton dalam bangunan. Meski tidak nampak, namun sesungguhnya ialah yang menjadi penyangga kokohnya sebuah bangunan. :-)

6. Cari sumber informasi yang terjamin kebenarannya.
Perbedaan bisa muncul karena informasi yang salah. Oleh sebab itu, pastikan sumber informasi kita bisa terjamin dan dapat dipercaya kebenarannya. Lebih bagus lagi jika disertai bukti yang mendukung.

7. Koreksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
Menyalahkan orang lain terus menerus tidak akan banyak membantu kita. Bisa jadi kesalahan sebenarnya terletak pada diri kita. Karenanya, koreksi diri sendiri terlebih dahulu merupakan langkah yang paling bijaksana.

So, berhentilah menyesalkan perbedaan. Karena jika tidak, kita akan kehilangan sumber kebahagiaan! :-)

Sukses selalu menyertai kita semua.

PECALANG IN THE SILENCE DAY

Pecalang is one of the elements in Pekraman village in Bali. Attendance pecalang give the feel of the unique and different from other areas outside the island of Bali. Pecalang often get involved to help secure the various activities in Bali, such as religious ceremonies, concert music and democracy party.


Security with this system is sensed more comfortable and family nuances by Balinese humanity if we compared with the police officer that is identical with the "violence".

Bali is known as a regional with highest awareness and solidarity, and then why the feast day of Nyepi which is comes once every year, it must be maintained and monitored by pecalang?

And then why attendance of pecalang in the feast of Nyepi is asked. Whereas they only run the tasks and obligations as the elements of the Pekraman village in Bali,

Does this mean that without pecalang the Nyepi day in Bali will not run smoothly???

NYEPI DAY

Nyepi is a Balinese "Day of Silence" that falls on Bali's Lunar New Year (March 26, 2009). It is a day of silence, fasting, and meditation.


Observed from 6 a.m. until 6 a.m. the next morning, Nyepi is a day reserved for self-reflection and as such, anything that might interfere with that purpose is restricted. The main restrictions are: no lighting fires (and lights must be kept low); no working; no entertainment or pleasure; no traveling; and for some, no talking or eating at all. The effect of these prohibitions is that Bali’s usually bustling streets and roads are empty, there is little or no noise from TVs and radios, and few signs of activity are seen even inside homes. The only people to be seen outdoors are the Pecalang, traditional security men who patrol the streets to ensure the prohibitions are being followed.

Although Nyepi is primarily a Hindu holiday, non-Hindu residents of Bali observe the day of silence as well, out of respect for their fellow citizens. Even tourists are not exempt; although free to do as they wish inside their hotels, no one is allowed onto the beaches or streets, and the only airport in Bali remains closed for the entire day. The only exceptions granted are for emergency vehicles carrying those with life-threatening conditions and women about to give birth.

On the day after Nyepi, known as Ngembak Geni, social activity picks up again quickly, as families and friends gather to ask forgiveness from one another, and to perform certain religious rituals together.

* First, The Melasti Ritual is performed at the 3-4 previous day. It is dedicated to Sanghyang Widhi/Vishnu-Devas-Bataras and is performed at the beach to respect them as the owner of The Land and Sea.
* Second, The Bhuta Yajna Ritual is performed in order to vanquish the negative elements and create balance with God, Mankind, and Nature.
* Third, The Nyepi Rituals is performed with the following conditions:
o Amati Geni: No fire/light
o Amati Karya: No working
o Amati Lelunganan: No traveling
o Amati Lelanguan: Fasting
* Fourth, The Yoga/Brata Ritual starts at 6:00 AM March 19 and continues to 6:00 AM March 20 (24 hours, dates provided are for 2007).
* Fifth, The Ngebak Agni/Labuh Brata Ritual is performed for all Hindu's to forgive each other and to welcome the new days to come.
* Sixth and finally, The Dharma Shanti Rituals is performed as the Nyepi Day or "Day of Silence."

Sex claims against US Church rise


The number of new claims of sexual abuse made against US Roman Catholic priests rose by 16% to more than 800 last year, a Church report says. It says the Church paid $436m (£313m) in 2008 for abuse cases. Most of the money was used to compensate victims. The study covered almost 200 dioceses and religious orders across the US. It found that more than one in five victims were under the age of 10 when they were abused. Although the number of claims made against the Church rose in 2008, the total cost dropped by 29% compared to the previous year.


The Associated Press news agency said 2007 was an unusually high year, when the Archdiocese of Los Angeles began paying a $660m settlement to about 500 people.

The annual review tracks progress made in implementing the Charter for the Protection of Children, adopted by US bishops following a scandal in Boston in 2002.

Cardinal Francis George of Chicago said the Church was "on the right path" in its quest to better protect "all children in society".